Menahan pipis adalah hal yang wajar dilakukan seseorang Pasalnya, ada kalanya kita berada dalam kondisi yang kurang mendukung atau tidak memungkinkan untuk mengeluarkan urin dengan segera. Namun, tahukah Anda ada bahaya menahan pipis yang cukup serius mengintai jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus?

Meningkatkan Risiko Infeksi Saluran Kemih

Risiko ini lebih besar terjadi pada wanita karena uretra wanita lebih pendek dibandingkan pria. Kendati begitu, hal ini bukan berarti pria sama sekali terhindar dari risiko infeksi saluran kemih (ISK).

ISK terjadi akibat bakteri yang ada di dalam urin menginfeksi kandung kemih. Beberapa gejala umum yang dialami penderita ISK antara lain sebagai berikut.

  • Rasa ingin pipis yang lebih sering alias anyang-anyangan.
  • Ada sensasi terbakar saat buang air kecil.
  • Urin berbau tajam.
  • Warna urin mengeruh.
  • Adanya darah di dalam urin.
  • Nyeri pada pinggang.

Risiko terkena ISK juga semakin tinggi ketika Anda tidak mengonsumsi air dengan cukup. Kondisi tersebut akan menyebabkan kandung kemih tidak cukup penuh untuk memberi sinyal untuk pipis. Dengan begitu, bakteri yang sudah ada di dalam urin pada kandung kemih akan berkembang hingga menginfeksi.

Batu Ginjal

Bahaya menahan pipis yang satu ini merupakan kondisi yang tak kalah serius. Batu ginjal pada dasarnya merupakan batu yang terbentuk di dalam ginjal karena adanya kelebihan kalsium dan natrium yang menumpuk di dalam ginjal.

Ukuran batu ginjal bermacam-macam. Secara umum, batu ginjal yang berukuran kecil dapat keluar dengan sendirinya. Namun, jika batu ginjal telah berukuran besar (melebihi 6 mm), maka perlu dilakukan tindakan khusus. Terdapat empat jenis operasi untuk membuang batu ginjal—dokter akan menyarankan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Penyakit batu ginjal juga memberi gejala tertentu. Beberapa sinyal yang diberikan tubuh ketika Anda mengalami batu ginjal antara lain seperti berikut.

  • Frekuensi buang air kecil yang meningkat.
  • Jumlah urin yang keluar sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali (hanya ada sensasi untuk segera pipis).
  • Rasa nyeri ketika buang air kecil.
  • Nyeri pada perut bagian bawah, samping, pinggang, dan/atau area selangkangan (terutama pada laki-laki).
  • Munculnya rasa mual.

Inkontinensia Urine

Menahan pipis terlalu lama atau sering juga membuat otot-otot kandung kemih melemah. Sebab saat menahan buang air kecil, otot dalam kandung kemih menjadi lebih kencang. Apabila situasi tersebut terus berulang, maka otot menjadi kendur dan tidak lagi elastis.

Kalau sudah begitu, Anda dapat mengalami inkontinensia urine, yakni kondisi hilangnya kontrol kandung kemih. Anda pun dapat mengeluarkan urin tanpa sadar alias mengompol. Keadaan ini tentu akan membuat berbagai aktivitas Anda tidak lagi semenyenangkan maupun sebebas sebelumnya.

Jenis inkontinensia urine sendiri bermacam-macam, yakni sebagai berikut.

  • Inkontinensia stres : urin bocor saat kandung kemih tertekan seperti karena tertawa, berolahraga, bersin, atau mengangkat sesuatu yang berat.
  • Inkontinensia mendesak : rasa ingin buang air kecil tiba-tiba yang diikuti keluarnya urin secara tidak sengaja.
  • Inkontinensia luapan : kandung kemih tidak benar-benar kosong sehingga urin menetes terus-menerus.
  • Inkontinensia fungsional : adanya gangguan fisik atau mental yang membuat seseorang tidak dapat ke toilet tepat waktu.
  • Inkontinensia campuran : kondisi saat seseorang mengalami lebih dari satu jenis inkontinensia urin.

Sebagai catatan, kandung kemih orang dewasa dalam kondisi normal atau sehat dapat menampung sekitar 400 hingga 600 ml urin atau setara dengan dua gelas berukuran sedang. Rasa kebelet pipis umumnya akan muncul ketika kandung kemih sudah penuh.

Oleh sebab itu, hasrat untuk segera mengeluarkan urin sebaiknya tidak terlalu lama—apalagi sering—diabaikan. Mengingat urin merupakan hasil sisa metabolisme dan zat-zat beracun bagi tubuh, bahaya menahan pipis terlalu lama pun dapat berakibat fatal.

Referensi:

https://www.healthline.com/health/holding-pee

https://www.medicalnewstoday.com/articles/321408#side-effects

https://www.halodoc.com/artikel/kenali-5-jenis-inkontinensia-urine-yang-dapat-terjadi

Leave a Reply